Showing posts with label harta. Show all posts
Showing posts with label harta. Show all posts

Wednesday, February 11, 2015

Wajibkah menulis Wasiat?

Hukum menulis wasiat
Pertanyaan:
Apakah menulis wasiat hukumnya wajib? Dan apakah diharuskan ada saksi? 

Jawapan:

Penulisan wasiat dengan ungkapan sebagai berikut: Saya fulan bin fulan, atau fulanah binti fulan. Saya berwasiat, sesungguhnya saya bersaksi bahwa tiada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya dan bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, bahwa Isa adalah hamba Allah dan utusan-Nya serta kalimat-Nya yang ditiupkan kepada Maryam dari roh yang diciptakan-Nya, bahwa syurga adalah benar dan adanya neraka, bahwa Kiamat pasti datang, tidak diragukan lagi, dan bahwa Allah akan membangkitkan yang di dalam kubur.


Saya berwasiat kepada yang saya tinggalkan dari keluarga saya, keturunan saya dan semua kerabat saya untuk bertakwa kepada Allah saling memperbaiki hubungan kekerabatam, menaati Allah dan Rasul-Nya serta saling berwasiat dengan kebenaran dan kesabaran. Saya berwasiat kepada mereka seperti yang diwasiatkan oleh Ibrahim ‘alaihissalam kepada putranya dan sebagaimana yang diwasiatkan Ya’qub,

يَابَنِيَّ إِنَّ اللهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.” (QS. Al-Baqarah: 132)

Setelah ia menyebutkan wasiat-wasiat lainnya yang ia kehendaki. Misalnya, mewasiatkan sepertiga hartanya atau kurang dari itu atau harta tertentu yang tidak melebihi sepertiga dengan menjelaskan peruntukannya yang dibenarkan syariat, serta menyebutkan wakilnya untuk melaksanakannya.
Berwasiat tidak wajib, tapi sangat dianjurkan bila ingin mewasiatkan sesuatu. Hal ini berdasarkan riwayat yang disebutkan dalam Ash-Shahihain, dari Ibnu Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda,
Tidaklah seorang muslim berhak melewati dua malam, sedangkan dia memiliki sesuatu yang (hendak) dia wasiatkan padanya, melainkan wasiatnya (harus) tertulis di sisinya.”

Tapi jika ia mempunyai hutang atau hak-hak orang lain yang tidak ada bukti-buktinya, maka ia harus mewasiatkan untuk melunaskan hutang dan memeunhi hak-hak tersebut, sehingga tidak menghilangkan hak-hak orang lain. Dalam wasiat ini hendaknya disaksikan oleh dua orang saksi yang adil serta merektifikasikannya kepada seorang ahli ilmu sehingga boleh dijadikan pedoman. Dan tidak diharusnya dengan tulisan saja, kerana tulisannya bisa mirip dengan tulisan orang lain di samping tidak mudah diketahui kebenaran. Wallahu waliyut taufiq.


Sunday, February 8, 2015

Warisan Anak Angkat & Solusinya

Pertanyaan:-

Saya ada membaca sebuah artikel bahwa anak angkat tidak berhak mendapat warisan dari orang tua angkatnya. Jadi si anak ini dapat apa? Bagaimana jika dia diberi orang tua angkatnya? Ke manakah larinya warisan orang tua angkat?

Jawapan:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Anak angkat statusnya berbeza dengan anak kandung. Dalam aturan islam, anak angkat yang diasuh orang tua angkat, nasabnya tidak berubah. Ertinya, dia masih menjadi anak orang tua aslinya. Kerana tidak ada hubungan nasab antara anak angkat dengan orang tua angkat maka tidak berlaku semua hukum nasab dalam hal ini. Salah satunya, tidak boleh saling mewarisi. Sehingga ketika orang tua angkat meninggal, anak angkat tidak boleh mewarisi hartanya, demikian pula ketika anak angkat meninggal, orang tua angkat tidak boleh menjadi ahli warisnya. Karena tidak ada hubungan saling mewarisi dalam hal ini.

Antara Hibah, Warisan, dan Wasiat

Hibah, warisan, dan wasiat adalah tiga bentuk perpindahan harta dari satu orang ke orang lain yang memiliki aturan berbeda.
Hibah: memberikan sesuatu kepada orang lain tanpa ada timbal balik (searah). Hibah hanya boleh diberikan selama orang yang memberikan masih hidup, sadar, dan tanpa paksaan.
Wasiat: Memberikan sesuatu kepada orang dan baru akan dilaksanakan setelah orang yang memberi ini meninggal dunia. Wasiat boleh dijalankan, dengan syarat:
  1. Tidak diberikan kepada Ahli waris
  2. Tidak boleh lebih dari sepertiga. Jika lebih dari seperti maka harus dengan persetujuan ahli waris.
Warisan: Pemindahan hak dari satu orang kepada orang tertentu, dengan porsi dan aturan tertentu, tanpa harus ada akad sebelumnya.
Dari ketiga jenis pemindahan kepemilikan di atas, anak angkat bisa mendapatkan harta dari orang tua angkatnya dengan dua cara: hibah atau wasiat. Sementara untuk warisan, dia tidak mendapatkan, kerana anak angkat bukan ahli waris.
a. Hibah
Pemberian orang tua angkat kepada anak angkatnya ketika dia masih sehat, dan dilakukan murni atas kemahuannya, termasuk bentuk hibah. Orang tua angkat boleh menghibahkan hartanya kepada anak angkatnya, sekalipun lebih dari sepertiga hartanya, dan meskipun tanpa persetujuan ahli waris yang lain. Dan yang sudah diberikan orang tua angkat, tidak boleh ditarik kembali oleh ahli waris. Karena harta yang sudah dihibahkan, telah berpindah kepemilikan.
b. Wasiat
Karena anak angkat bukan ahli waris, maka dia boleh mendapatkan wasiat dari orang tua angkatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَعْطَى كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ، أَلَا لَا وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ

Sesungguhnya Allah telah memberi jatah warisan kepada masing-masing yang berhak. Ketahuilah, tidak ada wasiat untuk ahli waris. (HR. Ibnu Majah 2714)
Hanya saja perlu diperhatikan, wasiat ini maksimal sepertiga dari total harta yang ditinggalkan mayit.
Allahu a’lam

Wednesday, January 28, 2015

CIRI-CIRI WASIAT ISLAM

Terdapat beberapa ciri dan prinsip wasiat Islam yang perlu dipatuhi:‎ 

‎1. Harta yang hendak diwasiatkan mestilah tidak lebih daripada sepertiga (1/3) daripada ‎harta pusaka bersih kecuali mendapat persetujuan daripada ahli-ahli waris.‎ 

‎2. Penerimanya hendaklah bukan waris iaitu mereka yang tiada hak faraid ke atas pusaka ‎simati kecuali mendapat persetujuan daripada ahli-ahli waris yang lain.‎ 

‎3. Jika penerima wasiat meninggal dunia semasa hayat pewasiat, maka wasiat tersebut ‎adalah terbatal.‎ 

‎4. Jika penerima wasiat meninggal dunia selepas menerima wasiat dan selepas kematian ‎pewasiat, maka haknya boleh diwarisi oleh waris penerima.‎ ‎

5. Selepas kematian pewasiat, perlu ditolak dahulu kos perbelanjaan pengkebumian dan ‎pembayaran hutang simati.‎ ‎

6. Wasiat boleh ditarikbalik pada bila-bila masa kerana ia hanya berkuatkuasa selepas ‎kematian pewasiat dan wasiat tersebut perlulah dibuat secara sukarela.‎ ‎

7. Harta yang diwasiatkan adalah harta milik sendiri secara tunai dan bukan harta milik ‎orang lain.‎

8. Jika yang diwasiatkan adalah dari harta perkongsian samada perniagaan atau ‎seumpamanya, maka hendaklah dikepilkan bersama surat perakuan dari rakan kongsi ‎yang menyatakan sah wujudnya dan benarnya sebagaimana yang ditulis dalam wasiat.‎

9. Wasiat yang ditulis hendaklah tidak membebankan penerima wasiat. Sebagaimana firman Allah s.w.t. dalam surah an-Nisa' ayat 12:




 Maksudnya: "...Kalau pula mereka (saudara-saudara yang seibu itu) lebih dari seorang, maka mereka ‎bersekutu pada satu pertiga (dengan mendapat sama banyak lelaki dengan perempuan), ‎sesudah ditunaikan wasiat yang diwasiatkan oleh si mati dan sesudah dibayarkan ‎hutangnya; wasiat-wasiat yang tersebut hendaknya tidak mendatangkan mudarat (kepada ‎waris-waris). (Tiap-tiap satu hukum itu) ialah ketetapan dari Allah. Dan (ingatlah) Allah ‎Maha Mengetahui, lagi Maha Penyabar".‎ 

Monday, January 26, 2015

DALIL WASIAT

Wasiat adalah dibenarkan di dalam Islam. Wasiat disyariatkan melalui dalil Al-Quran, ‎Sunnah Nabi s.a.w., amalan sahabat dan ijma' ulama'.‎

Dalam al-Quran, Allah s.w.t. berfirman:
"...Tetapi sekiranya kamu mempunyai anak maka bahagian mereka (isteri-isteri kamu) ialah satu ‎perlapan dari harta yang kamu tinggalkan, sesudah ditunaikan wasiat yang kamu ‎wasiatkan dan sesudah dibayarkan hutang kamu..." ‎‎(QS. Surah An-Nisa': 12)‎

Dalam Sunnah, Rasulullah s.a.w. bersabda, maksudnya: “Seseorang Muslim yang ‎mempunyai sesuatu yang boleh diwasiatkan tidak sepatutnya tidur dua malam berturut-‎turut melainkan dia menulis wasiat disisinya”.(Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)‎


Hadis ini menyebut kalimah 'tidak sepatutnya' menunjukkan bahawa setiap seorang muslim perlu mempersediakan ‎diri dengan menulis wasiatnya kerana dia tidak ‎mengetahui bila ajalnya akan tiba. Kemungkinan kerana kelalaiannya akan mengakibatkan ‎segala hajatnya tergendala dan tidak terlaksana.‎ Manakala harta yang ditinggalkannya menjadi rebutan dan perkelahian pewaris yang masih hidup.

Rasulullah s.a.w. turut besabda yang maksudnya: “Orang yang malang ialah orang yang ‎tidak sempat berwasiat”. (Hadis riwayat Ibnu Majah)‎

Sabda Rasulullah s.a.w. lagi: “Sesiapa yang meninggal dunia dengan meninggalkan ‎wasiat maka dia mati di atas jalan Islam dan mengikut sunnah. Dia mati dalam keadaan ‎bertaqwa, bersyahadah dan dalam keadaan diampunkan. (Hadis riwayat Ibnu Majah)‎